TRADISI BIMBANG BEBALAI PADA ETNIS SERAWAI: SEBUAH ANALISIS FUNGSIONAL STRUKTURAL

Rois Leonard Arios

Abstract


Tradition of an ethnic group will still exist and be sustainable if the supporting community
continues to carry out its role in accordance with its function in the tradition. This paper
explains how bimbang bebalai tradition in the Serawai tribe, which could be implemented
during the reign, is no longer carried out even though it has been facilitated by the
government. In analyzing the problem, the A.R. Radcliffe-Brown structural functional
approach was used by focusing on the analysis of the role functions of each structure. The
study was conducted with a qualitative approach with interviews and observations as a
primary data collection tool and supported by literature study. The study has found that
bimbang bebalai tradition cannot be implemented at this time because the existing role of
indigenous institution and structure in the tradition itself does not work. The role of the
government that is overboard actually eliminates the community’s role which is supposed
to be facilitated as the owner and executor of the tradition.


Keywords


bimbang bebalai, structural functional, Serawai, role and function

Full Text:

PDF

References


Afrizal. 2014. Metode Penelitian Kualitatif: Sebuah Upaya Mendukung Penggunaan Penelitian Kualitatif dalam Berbagai Disiplin Ilmu. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Arief, Eza Adhitya. 2018. “Perancangan Informasi Tari Andun Melalui Media Video Profil.” Universitas Komputer Indonesia Bandung, Bandung.

Arios, Rois Leonard. 2004. Kebudayaan Suku Bangsa Enggano di Bengkulu. Padang:

Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.

___________. 2019. “Pertukaran Sosial dalam Tradisi Pantawan Bunting pada Suku Bangsa

Besemah di Kota Pagaralam Provinsi Sumatra Selatan.” Patanjala: Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya 11(3):467-82.

_______. 2007. Kutei: Konsep dan Permasalahannya pada Suku Bangsa Rejang. Jakarta:

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Bungin, Burhan. 2011. Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana.

Corbin, Juliet and Anselm Strauss. 2008. Basics of Qualitative Research: Techniques and Procedures for Developing Grounded Theory. California: Sage Publications Inc.

Dali, Bustan A. 2004. Daerah Seluma dalam Sejarah Asal Usul Pertumbuhan dan Perkembangan. Tais: Yayasan Pembangunan Kabupaten Seluma.

Depdikbud. 1978. Kebudayaan Bengkulu. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah.

Dihamri. 2017. “Budaya Daur Hidup (Siklus Kehidupan) Suku Serawai di Kabupaten Bengkulu Selatan.” Jurnal Georafflesia: Artikel Ilmiah Pendidikan Geografi 2(2):61-75.

Fitriani, Dwi Septi. 2019. “Makna Tari Napa pada Bimbang Adat Suku Serawai di Kota Manna

Kabupaten Bengkulu Selatan.” Jurnal Sosiologi Nusantara 5(1):1-21.

Haviland, William A. 1999. Cultural Anthropology 9th Edition. Florida: Harcourt Brace College Publishers.

Hoesin, Kiagoes. 1938. Koempoelan Oendang-Oendang Adat Lembaga dari Sembilan Onderafdelingen dalam Gewest Benkoelen.

Bengkoelen: Drukkerij “Tjan.” Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropologi 1. Jakarta: UI Press.

Koentjaraningrat. 2013. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Marzali, Amri. 2014. “Struktural-F u n g s i o n a l i s m e . ” J u r n a l Antropologi 52(1).

Octaviani. 2017. “Pola Komunikasi Adat Berasan Suku Serawai di Era Modern.” Jurnal ASPIKOM 3(2):1730-85.

Pedoman Bengkulu. 2019. “Festival Bimbang Bebalai Seluma Gagal Digelar.” Pedoman Bengkulu. Diunduh 8 Agustus 2019 (http://pedomanbengkulu.com/2019/08/festival-bimbang-bebalai-selumagagal-digelar/).

Pemerintah Kabupaten Seluma. 2014. “Peraturan Daerah Kabupaten Seluma No 4 Tahun 2014 tentang Pemberlakukan Kompilasi Hukum Adat di Kabupaten Seluma.”

Radcliffe-Brown, A.R. 1952. Structure and Function in Primitive Society. Illinois: The Free Press.

Refisrul. 2019. “Fungsi Lemang dalam Upacara Perkawinan Suku Besemah di Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu.” Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya 5(2):235-56.

Sarwono, Sarwit et al. 2005. Sejarah dan Adat Istiadat K a b u p a t e n M u k o m u k o .

Mukomuko. Mukomuko: Bappeda Kabupaten Mukomuko.

Sarwono, Sarwit, Agus Joko Purwadi. 2017. “Folklore Rejung pada Kelompok Etnik Serawai di

Provinsi Bengkulu.” Masyarakat, Kebudayaan dan Politik 26(3):182–92.

Spradley, P. J. 1997. Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wancana.

Viadinata, Losa. 2016. “Makna Simbolik Tari Andun dalam Upacara Adat Perkawinan pada

Masyarakat Kecamatan Kota Manna Kabupaten Bengkulu




DOI: https://doi.org/10.33652/handep.v4i1.131

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2020 Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

JURNAL HANDEP INDEXED BY :

                                                                      

 

 

 

Lisensi Creative Commons

This work is licensed under a Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional.