KERUNTUHAN BIROKRASI TRADISIONAL DI KASUNANAN SURAKARTA

Muhammad Anggie Farizqi Prasadana, Hendri Gunawan

Abstract


Kasunanan Surakarta merupakan salah satu kerajaan semi-otonom yang diberi hak oleh Belanda untuk mengatur birokrasinya sendiri. Birokrasinya adalah birokrasi tradisional. Kekuasaan pemerintah kolonial yang kian menguat, terutama selepas Perang Jawa, menjadikan birokrasi itu berkedudukan di bawah birokrasi kolonial. Ketika Indonesia merdeka, birokrasi tradisional di Kasunanan hancur dan digantikan oleh birokrasi modern. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan proses keruntuhan birokrasi tradisional di Kasunanan Surakarta. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang dimulai dari pengumpulan sumber (heuristik), melakukan kritik sumber, interpretasi sumber, dan yang terakhir menuliskan hasilnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keruntuhan birokrasi tradisional di Kasunanan Surakarta disebabkan oleh tuntutan yang disuarakan kalangan anti-swapraja yang menganggap kerajaan sebagai kaki tangan Belanda dan ketidakpedulian Sunan terhadap gerakan revolusi yang sedang menggema. Keruntuhannya sejalan dengan hilangnya status istimewa yang sempat dirasakan wilayah Surakarta. Setelah runtuh, pemerintah Republik Indonesia membentuk birokrasi modern di daerah Surakarta dan menempatkannya di bawah provinsi Jawa Tengah.

Keywords


birokrasi tradisional; birokrasi kolonial; Kasunanan Surakarta

Full Text:

PDF

References


Albrow, Martin. 2005. Birokrasi. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Houben, Vincent J.H. 2002. Keraton dan Kompeni: Surakarta dan Yogyakarta 1830-1870. Terj. E. Setiyawati Alkhatab. Yogyakarta: Bentang Budaya.

Ibrahim, Julianto. 2004. Bandit dan Pejuang di Simpang Bengawan: Kriminalitas dan Kekerasan Masa Revolusi di Surakarta. Wonogiri: Bina Citra Pustaka.

Kahin, George McTurnan. 1995. Refleksi Pergumulan Lahirnya Republik: Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia. Terj. Nin Bakdi Soemanto. Surakarta: UNS Press.

Kuntowijoyo. 2004. Raja, Priyayi, dan Kawula: Surakarta, 1900-1915. Yogyakarta: Ombak.

Kuntowijoyo. 2013. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Langgeng Sulistyobudi, “Revolusi dan Masalah Kemanusiaan di Surakarta dan Yogyakarta”, dalam Agus Suwignyo, dkk. (eds.). 2011. Sejarah Sosial (di) Indonesia: Perkembangan dan Kekuatan. Yogyakarta: Jurusan Sejarah FIB UGM.

Larson, George D. 1990. Masa Menjelang Revolusi: Keraton dan Kehidupan Politik di Surakarta 1912-1942. Yogyakarta: UGM Press.

Moedjanto, G. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-Raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius.

Ni’matul Huda, “Pengakuan Kembali Surakarta sebagai Daerah Istimewa dalam Perspektif Historis dan Yuridis”, dalam Jurnal Hukum Ius Quia Iustum No. 3 Vol. 20 Juli 2013.

Nurhajarini, Dwi Ratna & Triwahyono, Tugas & Gunawan, Restu. 1999. Sejarah Kerajaan Tradisional Surakarta. Jakarta: Depdikbud.

Pranoto, Suhartono W. 2001. Serpihan Budaya Feodal, (Yogyakarta: Agastya Media.

Soejatno. 1972. Kolonialisme Barat dan Kemunduran Radja-Radja Surakarta Abad 19. Surakarta: IKIP Surakarta.

Soeratman, Darsiti. 2000. Kehidupan Dunia Keraton Surakarta 1830-1939. Yogyakarta: Yayasan untuk Indonesia.

Suwarno, P.J. 1989. Sejarah Birokrasi Pemerintahan Indonesia Dahulu dan Sekarang. Yogyakarta: Penerbitan Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

UU No. 16 Tahun 1947 tentang Pembentukan Haminte-Kota Surakarta, http://jdih.ristekdikti.go.id/?q=system/files/perundangan/11777399.pdf, diakses 30 Mei 2017.




DOI: https://doi.org/10.33652/handep.v2i2.36

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

JURNAL HANDEP INDEXED BY :

                                                          

 

 

 

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.