BUDAYA KEMPONAN PADA MASYARAKAT MELAYU PONTIANAK (KAJIAN KEARIFAN LOKAL DALAM KEHIDUPAN SOSIAL ETNIK MELAYU

Muhammad Asyura

Abstract


Kemponan merupakan perwujudan kebudayaan lokal masyarakat Melayu Pontianak yang mengajarkan nilai sosial dalam bentuk sugesti. Kemponan merupakan budaya menghargai dan mengapresiasi sebuah tawaran ataupun pemberian orang lain berupa makanan dan minuman. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan teknik wawancara mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan budaya kemponan berdasarkan sebab dan media terjadinya, pola pencegahannya, dan nilai sosial budaya yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa sebab terjadinya budaya kemponan ialah adanya sugesti negatif dalam diri seseorang mana kala tidak memakan atau meminum yang disuguhkan atau yang diinginkan sehingga akan menimbulkan bala atau celaka bagi orang tersebut. Media terjadinya kemponan ialah makanan dan minuman, bahkan terdapat beberapa makanan dan minuman yang disakralkan oleh masyarakat Melayu Pontianak. Sebagai sebuah ‘sugesti negatif’ kemponan dapat dicegah dengan cara ‘dipatahkan’ melalui perilaku khas yang disebut jamah, cempalet, dan palet; yang mengandung nilai-nilai sosial yang berfungsi sebagai penangkal bala atau celaka mana kala seseorang menolak ajakan untuk menyantap makanan ataupun minuman tertentu yang dianggap sakral. Di dalam perilaku menjamah, cempalet dan palet, budaya kemponan mengandung nilai kearifan lokal yaitu 1) nilai budaya saling menghargai sesama manusia, 2) nilai budaya menghargai alam, dan 3) nilai budaya religi.

 

 


Keywords


kemponan, local wisdom, and Pontianak Malay

Full Text:

PDF

References


Anwar, Khaidir. 1995. Beberapa Aspek Sosio-Kultural Masalah Bahasa.Yogyakarta: UGM press.

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka

Asfar, Dedy Ari. 2010. Bahasa Ibu sebagai Identitas Etnik: Sosiolingusitik Melayu di Kota Pontianak. (Prosiding).Bandung:BBJB.

BPS Kalbar. 2010. Kalbar Dalam Angka. Pontianak: Artha Grafistama.

Husny. 1986. Butir-butir Adat Budaya Melayu Pesisir Sumatra Timur. Jakarta: Depdikbud.

Effendi, Chairil. 2006. Becerite dan Bedande Tradisi kesastraan Melayu Sambas. Pontianak: STAIN Press.

Effendi, Chairil. 2006. Sastra sebagai Wadah Integrasi Budaya. Pontianak: STAIN Press.

Gaspersz, Steve G. TT. Masuk Melayu: Menegosiasikan Islam dan Kemelayuan di Malaysia. (Civic-Culture: Jurnal Ilmu Pendidikan PKn dan Sosial Budaya) Vol 3 Universitas Kristen Indonesia Maluku

Ibrahim, dkk. 2012. Pantang Larang Melayu Kalimantan Barat. Pontianak: STAIN Press.

KBBI Edisi V Offline 2017.

Koentjaraningrat. 1986. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Mardimin, Johannes, dkk. 1994. Jangan Tangisi Tradisi, Traransformasi Budaya Menuju Masyarakat Indonesia Modern. Yogyakarta: Kanisius.

Moleong, L.J. 2010. Metode penelitian kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Huberman A.M. dan Matthew B.M.. 2014. Analisis data kualitatif. Jakarta: UI Press.

Pelly, Usman, dan Asih Menanti. 1994. Teori-teori Sosial Budaya. Jakarta: Depdikbud.

Saad, Muhammad Zubdi. 2003. Nasib Mendu dan Sejumlah Renungan Sufistik Anak Melayu. Pontianak: Mulyatama.

Sunandar. 2015. Melayu dalam Tantangan Globalisasi: Refleksi Sejarah dan Berubahnya Sistem Referensi Budaya. (Jurnal Khatulistiwa) Volume 5 No.1: IAIN Pontianak.

Wawancara Maimun Binti Husin, Mempawah 8 Januari 2015.

Wawancara Sataruddin Ramli, Pontianak 16 Januari 2015.

Wawancara Syarifah Dayang, Batu Ampar (Kubu Raya) 10 Februari 2015




DOI: https://doi.org/10.33652/handep.v3i1.38

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

JURNAL HANDEP INDEXED BY :

                                                          

 

 

 

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.